KARYA ILMIAH

Judul : TINGKAT KESEJAHTERAAN PARA BURUH DI INDUSTRI BULU MATA (KASUS DI DESA LANGKAP KECAMATAN KERTANEGARA KABUPATEN PURBALINGGA)

Tinjauan Pustaka :

Industri dapat dikatakan sebagai suatu bentuk kegiatan masyarakat sebagai bagian dari sistem perekonomian atau sistem mata pencaharian, karena itu industri merupakan suatu usaha manusia dalam menggabungkan atau mengolah bahan-bahan dari sumber daya lingkungan menjadi barang yang bermanfaat bagi manusia (Eko Punto, 2000 : 21). Selain itu industri juga memiliki pengertian suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan (diunduh dari http://organisasi.org/pengertian definisi macam jenis dan penggolongan industri din indonesia perekonomian bisnis). Sehingga dapat disimpulkan bahwa industri merupakan suatu kegiatan yang mana didalamnya melakukan kegiatan mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi bahkan barang jadi atau yang dikenal dengan proses produksi yang mengambil bahan dari lingkungan alam maupun tidak untuk menghasilkan barang yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam industri sangatlah membutuhkan tenaga kerja. Merekalah yang bertugas dalam menjalankan proses produksi. Pada industri yang sebagian besar menggunakan peralatan sekalipun kehadiran tenaga kerja sangat dibutuhkan. Tanpa adanya tenaga kerja suatu industri tidak dapat berlangsung. Oleh karena itu apresiasi terhadap para pekerja harus diperhatikan. Bukan hanya dengan upah semata tetapi juga dengan memperhatikan kesejahteraan mereka.

Berbagai penelitian tentang industri telah banyak dilakukan. Penelitian memiliki titik fokus yang berbeda-beda. Seperti dalam skripsi Puspitasari : 2008 yang berjudul Peranan Industri Krupuk mie dalam Kehidupan Sosial Ekonomi, di sana dijelaskan bahwa adanya industri di daerah tersebut dapat menunjang kehidupan sosial ekonomi. Di katakan juga bahwa dengan adanya industri tersebut telah membuka lapangan kerja terutama bagi mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi atau hanya  lulus sekolah dasar bahkan tidak berpendidikan. Dengan adanya industri tersebut dapat mengurangi angka pengangguran di daerah tersebut.

Tingginya angka pengangguran di Indonesia membuat pemerintah membuka jalan agar dapat mengatasi hal tersebut. Dengan adanya industri diharapkan banyak menyerap tenaga kerja, sehingga dapat memperkecil angka pengangguran. Selain itu juga industri dapat meningkatan pendapatan perkapita khususnya bagi daerah setempat. Demikianlah peranan industri pada umumnya.

Dalam industri bukan hanya ada penyerapan tenaga kerja, namun terkadang juga adanya eksploitasi tenaga kerja yang masih di bawah umur. Dengan alasan bayaran yang lebih murah biasanya mereka lebih memilih tenaga- kerja di bawah umur. Tenaga kerja dibawah umur cenderung tidak banyak menuntut terlebih pendidikan mereka yang rendah, sehingga mereka tidak paham akan eksploitasi tersebut. Yang mereka tahu hanyalah sebatas dibayar dan mendapatkan uang tanpa mengerti akan tujuan dari adanya eksploitasi tersebut.

Seperti penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2008), yang dilakukan di salah satu industri Jeans di Pekalongan yang berjudul Pekerja Anak pada Industri Jeans, penelitian ini menekan pada adanya eksploitasi anak sebagai pekerja di industri Jeans. Mereka bekerja pada bagian memasang benang dan pemlastikan, selain itu juga memotong benang. Bukan hanya itu tetapi mereka bekerja tanpa adanya hari libur, yaitu dari senin hingga mingggu kemudian harus melakukan tambahan atau lembur pada hari sabtu.

Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa penelitian tersebut menitikberatkan pada manfaat industri, yaitu industri berperan dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan juga adanya eksploitasi pada pekerja yang masih anak-anak. Salah satu yang penting dalam penelitian ini adalah dimana adanya eksploitasi pada para pekerja di industri bulu mata yang mana sebagian pekerjanya adalah mereka yang lulus sekolah menengah atas atau sederajatnya. Di mana pekerjaan ini menjadi pilihan bagi mereka, sehingga dengan adanya eksploitasi tersebut kesejahteraan para pekerjanya dipertanyakan.

 

Landasan Teori :

  1. Teori Eksploitasi

Seiring dengan era globalisasi menuntut adanya perubahan secara cepat. Berbagai perubahan terjadi dalam berbagai bidang, tak terkecuali pada industri. Industri ada yang menekankan pada padat modal dan padat karya,

Pada industri yang menekankan pada padat modal umumnya banyak menggunakan tenaga mesin, sedangkan pada industri padat karya lebih mengutamakan pada perekrutan tenaga kerja untuk menunjang hasil pro duksi tersebut.

Pada industri padat modal umumnya modal menjadi faktor utama berlangsungnya kegiatan di industri tersebut. Padat modal lebih menekankan pada penggunaan peralatan mesin untuk melangsungkan  proses produksi. Sehingga pada umumnya pada industri padat modal tidak menyeraap tenaga kerja yang cukup banyak. Mereka hanya mengoprasikan mesin saja untuk kemudian     mesinlah yang bekerja.

Berbeda dengan industri yang padat modal, pada industri yang padat karya lebih banyak menyerap tenaga kerja. Di mana tenaga kerja sangat berpengaruh pada aktivitas produksi dalam industri tersebut. Pekerja sebagai penentu akan adanya proses produksi, tanpa adanya tenaga kerja industri cenderung limpuh karena tidak dapat memproduksi barang.

Seperti yang terjadi pada industri bulu mata di Purbalingga, di mana ada pembagian kerja yaitu untuk pusat industrinya sendiri lebih cenderung menggunakan mesin dalam tahap finishing atau proses akhir. Akan tetapi untuk pengolahan dari barang mentah menjadi barang jadi mereka menggunakan tenaga kerja. merka umumnya bekerja di daerah dengan adanya pengepul yang kemudian menyetornya ke industri pusat.

Dengan adanya hal tersebut mereka sering dituntut untuk menghasilkan barang lebih banyak. Terkadang mereka hanya mengejar target tanpa memperhatikan hasilnya baik atau tidak. Selaian itu upah yang mereka terima dirasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kemudian ada yang dinamakan lembur yang umumnya dilakukan dengan membawa pekerjaanya ke rumah. Dengan demikian mereka dapat memperoleh upah tambahan.

Seperti yang diungkapkan oleh Mark (dalam Agus Salim , 2007 : 56-57) tentang teori eksploitasi. Ia mengatakan bahwa adanya keuntungan yang diperoleh dari usaha tidak terjadi pembagian keuntungan secara rasional dengan pihak buruh (proporsional). Padahal buruh telah bekerja keras, untuk meningkatkan produksi dan telah melakukan banyak pengorbanan. Maka terjadi nilai lebih atau Surplus Value yaitu tambahan atau kelebihan pada prasyarat kelangsungan hidup buruh dimana keuntungan yang diperoleh pengusaha (pemilik modal) dinamakan surplus value.

Berdasarkan ungkapan Mark di atas jelas bahwa adanya industri bulu mata tersebut belum tentu para pekerja merasa cukup dengan upah yang diterima mereka. Namun disisi lain yang ditargetkan oleh para pemilik modal adalah pemenuhan hasil produksi untuk pasar. Pada dasarnya ada ketimpangan antara pemilik modal dan para pekerja. Dimana pemilik modal mengadakan lembur untuk menaikan hasil produksi tapi bagi pekerja hal tersebut dilakukan demi mendapatkan nilai tambahan untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Tanpa disadari bahwa sebenarnya mereka diekploitasi oleh para pemilik modal untuk mendapatkan surplus value tersebut.

Mark juga mengatakan bahwa keadaan tersebut terus menerus diperparah dengan semakin ketatnya persaingan antara kaum borjuis (kapitalis) dalam mengumpulkan modal untuk terus diinvestasikan dan perbaikan sarana produksi. Hal ini berkaitan dengan semakin banyaknya ndustri yang kemudian bermunculan khususnya industri bulu mata yang ada di Purbalingga. Mereka bersaing demi mendapatkan pangsa pasar yang banyak. Ujung dari pemenuhan pangsa pasar ini lah yang kemudian berdampak pada eksploitasi buruh. Mereka secara tidak langsung dipaksa untuk lembur agar dapat memperoleh upah tambahan. Tujuan dari kaum borjuis sebenarnya adalah untuk meningkatkan hasil produksi itu sendiri.

Menurutnya ada dua keuntungan yang diperoleh pengusaha, diantaranya yaitu : pertama, keuntungan utama : keuntungan yang pertama diperoleh adalah dari kelebihan jam kerja. Hal ini sebenarnya adalah hak buruh, tetapi karena terikat oleh kontraak perjanjian kerja (legal system) maka buruh tersingkir. Kedua : keuntungan tidak utama : harga jual barang adalah biaya produksi yang dikeluarkan oleh pengusaha. Dengan demikian buruh tidak menikmati apapun. Dalam hal ini terjadi eksploitasi secara keseluruhan.

Dalam industri bulu mata tersebut jelas adanya jem kerja tambahan atau lembur. Hal ini mendorong banyak pekerja untuk melakukannya dengan berbagai alasan meskipun upah dirasa kurang memadai. Seharusnya mereka memiliki hak untuk tidak lembur. Akan tetapi mereka terikat kontrak untuk hal tersebut yang kemudian dengan alasan untuk meningkatkan prestasi kerja dari para pekerja itu sendiri.

Dengan demikian adanya eksploitasi para pekerja di industri bulu mata telah memunculkan berbagai reaksi. Para pekerja secara tidak langsung dipaksa untuk melakukan lembur di atas haknya sebagai pekerja. Selain itu juga adanya upah yang tidak memadai dari adanya surplus value dalam industri tersebut. Selanjutnya bagaimana dengan tingkat kesejahteraan para pekerja dengan adanya eksploitasi tersebut.

 

 

 

 

Kerangka Berpikir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s