AQIQAH SEBAGAI SARANA PEMBENTUKAN SOLIDARITAS

Agama merupakan suatu ajaran yang dianut oleh sebagian masyarakat berdasarkan iman atau kepercayaan yang telah diyakininya. Agama dijadikan sebagai panutan atau pedoman untuk kehidupannya kelak, tanpa agama mereka seolah hidup tanpa arah dan tujuan. Seperti halnya di Indonesia, ada berbagai macam agama.

Berbagai agama baik yang ada di Indonesia maupun di luar Indonesia diyakini bahwa semua ajaran agama memiliki inti ajaran yang sama. Meskipun setiap agama memiliki tata cara yang bebeda namun pada dasarnya semua agama mengajarkan tentang kebaikan. Kebaikan tersebut mencakup tentang berbagai sikap baik terhadap Tuhannya maupun terhadap sesamanya. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada satu agama pun yang lebih baik dari agama yang lain.Agama yang tumbuh dalam masyarakat memiliki berbagai makna. Agama dapat dijadikan sebagai solidaritas, konflik maupun sebagai ajang kapitalis. Berbagai teori yang berkaitan dengan agama telah diungkapkan oleh beberapa ahli seperti Emile Durkheim, Max Weber, dan Karl Marx. Mereka mengungkapkan tentang fungsi dari adanya agama dalam masyarakat itu sendiri.

Pandangan satu tokoh dengan tokoh yang lain memiliki perbedaan. Mereka melihat agama dari sudut yang berbeda berdasarkan pemikiran mereka sendiri. Bahwa pada dasarnya agama hidup dalam masyarakat dan merupakan suatu bagian tak dapat dipisahkan.

Ritual agama Islam tentang adanya akikah merupakan salah satu contoh ritual agama yang berfungsi sebagai pembentuk solidaritas. Seperti yang diungkapkan oleh Durkheim dalam bukunya yang bejudul The Elementary Form of The Religious Life (1915), ia menggambarkan bagaimana masyarakat mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap agama khususnya hal-hal yang dianggap sacral.

Emile Durkheim sebagai salah seorang Sosiolog abad ke-19, menemukan hakikat agama yang pada fungsinya sebagai sumber dan pembentuk solidaritas mekanis. Dalam masyarakat itu sendiri terdapat masyarakat dengan solidaritas mekanik dan solidaritas organic. Solidaritas mekanik terdapat pada masyarakat yang masih tradisional yang mempunyai bentuk tatanan social yang berdasarkan pada keyakinan dan suatu kepercayaan dan sentiment bersama, kontrol kumunal yang ketat, dan solidaritas tergantung pada keseragaman bersama.

Ia berpendapat bahwa agama adalah suatu pranata yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengikat individu menjadi satu-kesatuan melalui pembentukan sistem kepercayaan dan ritus. Melalui simbol-simbol yang sifatnya suci. Agama mengikat orang-orang kedalam berbagai kelompok masyarakat yag terikat satu kesamaan. Agama, secara historis memiliki citra integrafik dari sumber konflik. Dari khazanah ilmu-ilmu sosiologi modern, agama ternyata tidak dikaitkan dengan konflik, melainkan lebih kepada integrasi. Selain itu ia mengungkapkan bahwa segala sesuatu, seperti halnya ritual selalu memiliki makna tertentu. Segala sesuatu diciptakan memiliki fungsi dan makna tersendiri.

RITUAL

Ada berbagai macam ritual agama yang dilaksanakan, baik sebagai pembentuk solidaritas maupun untuk mendekatkan diri dengan penciptanya. Sebagai contoh adalah pelaksanaan aqiqah. Aqiqah merupakan suatu ritual agama Islam yang dilakukan dengan cara menyembelih kambing pada hari ke-7 kelahiran sang bayi.

Hukum aqiqah

Aqiqah dalam Islam hukumnya adalah sunah. Aqiqah sangat dianjurkan bagi bayi yang berusia 7 hari. Dalam ritual keagamaan tersebut aqiqah dilaksanakan untuk pemotongan rambut si bayi dan juga pemberian nama si bayi. Namun seperti yang telah disinggung di atas bahwa aqiqah tidak harus dilaksanakan pada hari ketujuh kelahiran si bayi, tetapi kapanpun setelah ia merasa mampu.

Binatang untuk aqiqah.

Masalah kambing yang layak untuk dijadikan sembelihan aqiqah adalah kambing yang sehat, baik, tidak ada cacatnya. Keharusan anak yang dilahirkan untuk menyentuh kambing yang disembelih untuk aqiqah, jelas tidak ada dasar hukumnya atau hanya kebiasaan saja. mereka yang kurang mampu. Pelaksanaan aqiqah memiliki aturan yang berbeda antara bayi laki-laki dan bayi perempuan. Pada bayi laki-laki, kambing yang disembelih adalah dua ekor, sedangkan pada bayi perempuan hanya satu ekor. Pembedaan ini berdasarkan kedudukan laki-laki dalam Islam yang lebih tinggi dengan perbandingan dua banding satu.

Orang yang berhak menerima daging aqiqah

Mereka yang paling layak menerima sedekah adalah orang fakir dan miskin dikalangan umat islam begitu juga dengan aqiqah. Walau bagaimapun berdasarkan beberapa buah hadist dan amalan Rasulullah dan sahabat kita di sunnahkan juga memakan sebahagian daripada daging tersebut ,bersedekah sebahagian dan menghadiahkan sebahagian lagi.

<Yang berhubungan dengan sang anak
1.      Disunnatkan untuk memberi nama
Tidak diragukan lagi bahwa ada kaitan antara arti sebuah nama dengan yang diberi nama. Hal tersebut ditunjukan dengan adanya sejumlah nash syari yang menyatakan hal tersebut.
2.      Mencukur RambutMencukur rambut adalah anjuran Nabi yang sangat baik untuk dilaksanakan ketika anak yang baru lahir pada hari ketujuh.
Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau tidak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan dengan rata; tidak boleh hanya mencukur sebagian kepala dan sebagian yang lain dibiarkan.
3. Aqiqah ini terutama dibebankan kepada orang tua si anak, tetapi boleh juga dilakukan oleh keluarga yang lain (kakek dan sebagainya).

e. hikmah aqiqah.
1.      Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim AS tatkala Allah SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.
2.      Dalam aqiqah ini mengandung unsur perlindungan dari syaitan yang dapat mengganggu anak yang terlahir itu, dan ini sesuai dengan makna hadits, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya.. Sehingga Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih terlindung dari gangguan syaithan yang sering mengganggu anak-anak.
3.      Aqiqah merupakan tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak pada hari perhitungan. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari memberikan Syafaat bagi kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.
4.      Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya sang anak.
5.      Aqiqah sebagai sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.
6.      Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.

RITUAL AGAMA PEMBENTUK SOLIDARITAS

Berdasarkan ritual keagamaan yang telah dicontohkan diatas dapat dikatakan bahwa agama memiliki fungsi, salah satunya berfungsi sebagai pembentuk solidaritas dalam masyarakat.  ritual yang disebutkan di atas adalah ritual tentang aqiqah. Aqiqah itu sendiri merupakan ritual yang dilaksanakan dalam agama Islam sebagai suatu upacara tentang pemberian nama, ucapan terima kasih atas kelahiran bayi serta pemotongan rambut si bayi.Ritual keagamaan sebagai pembentuk solidaritas mekanik banyak dijumpai pada masyarakat desa, seperti yang telah disebutkan oleh Durkheim bahwa masyarakat dengan solidaritas mekanik memiliki cirri bahwa masyarakatnya memiliki bentuk tatanan social yang berdasarkan pada keyakinan dan kepercayaan bersama. Masyarakat dengan solidaritas mekanik biasanya msih sangat kental dengan ritual-ritual keagaman dibandingkan dengan masyarakat dengan solidaritas organic yang cenderung mengarah pada modernitas.

Ritual keagaman seperti aqiqah sering dilaksanakan dengan pandangan bahwa mereka adalah seorang Islam sehingga wajib melaksanakan ritual-ritual keagamaan seperti yang telah dianjurkan dalam agama yang telah dianutnya.

Aqiqah yang dilaksanakan sebagai suatu ritual keagaaman dalam Islam merupakan contoh bahwa agama sebagai sarana pembentukan social. Selain itu seperti yang telah diungkapkan Durkheim bahwa segala sesuatu terlebih tentang agama memiliki makna atau fungsi tersendiri. Dari ritual tersebut banyak menciptakan solidaritas antar warga, baik yang dikenal dengan baik maupun yang tidak. Misalnya saja dalam pemotongan kambing. Bagu yang mempunyai hajat tidak mungkin dapat melakukannya sendiri, walaupun mereka dari kalangan masyarakat organic pun tetap membutuhkan orang lain. Masyarakat dengan solidaritas mekanik biasanya saling bahu membahu untuk membantu. Mereka tergerak dengan sendirinya dan beranggapan bahwa mereka hidup dalam masyarakat yang membutuhkan satu sama  lain sehingga mereka mengintegrasikan dirinya ke dalam masyarakat salah satunya melalui ritual tentang aqiqah.

Untuk membagikan daging aqiqah mereka juga saling membutuhkan. Mereka mersama-sama membagi hasil potongan daging kepada yang kurang mampu, yang dianggap memiliki kekurangan dalam lingkup masyarakat tersebut. Yang memiliki hajat ingin berbagi kepada mereka yang kurang mampu, di sinilah muncul rasa solidaritas yang tinggi. Meskipun dalam keseharian mereka kurang dalam berinteraksi, namun ketika ada peristiwa seperti ini mereka ingat bahwasannya dalam masyarakat tersebut ada yang pantas untuk mendapat bagian tersebut.

Selain itu, kasus aqiqah berfungsi untuk mempererat tali persaudaraan antar keluarga, sebagaimana hikmah dari adanya aqiqah. Dimana para anggota keluarga berkumpul satu sama lain untuk menyelenggarakan acara aqiqah. Solidaritas yang tercipta di antara mereka bukan hanya saling membantu dalam menyembelih kambing hingga pembagian daging aqiqah kepada fakir miskindan kerabat keluarga. Di sini muncul sifat kekeluargaan yang mempereratkan mereka. Bagi keleuarga yang umumnya berjauhan terkadang mereka rela menyempatkan waktu hanya untuk berkumpul dalam acara tersebut.

Mereka bahu membahu demi kelancaran ritual tersebut. Dalam ritual aqiqah itu sendiri seperti proses pemotongan rambut biasanya dilakukan oleh kerabat dekat. Para kerabat dekat tersebut biasanya berkumpul untuk kemudian mengikuti upacara pmotongan rambut sebagaimana ritual dalam aqiqah. Mereka bergantian satu sama lain sebagai tanda bahwa mereka merupakan bagian dari keluarga tersebut. Meskipun mereka berjauhan namun mereka dapat berkumpul bersama.  Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya upacara keagamaan tersebut dapat mengintegrasikan keluarga yang terpisah oleh tempat.

Berdasarkan contoh di atas jelas bahwa Durkheim terbukti bahwa ritual keagamaan dapat memperat tali persaudaraan. Mereka terintegrasi dengan adanya ritual tersebut, bukan hanya dalam keluarga namun juga terhadap masyarakat di sekitarnya. Sehingga jelas bahwa segala sesuatu yang ada dan dilaksanakan memiliki makna dan fungsi tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s