Materi Sosiologi

BAB 1

1. Sejarah Perkembangan Sosiologi

    Ilmu pada dasarnya merupakan sejumlah pengetahuan yang disusun secara sistematis, menggunakan penalaran logis dan dapat dikaji oleh setriap orang. Sedangkan pengetahuan merupakan segala sesuatu yang dimiliki manusia sebagai hasil kerja panca indra.
    Pada saat sosiologi masih dianggap sebagai ilmu yang bernaung di dalam filsafat disebut dengan nama filsafat social. Setelah Auguste Comte (1798-1857) menciptakan istilah sosiologi pada tahun 1839 terhadap keseluruhan pengetahuan manusia mengenai kehidupan bermasyarakat melalui karya ilmiahnya yang berjudul ” Course de Phylosophie Positive”, maka lahirlah sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan.
    Inilah yang disebut dengan tahap pemikiran awal sosiologi. Sosiologi kemudian semakin berkembang dengan lahirnya konsep-konsep baru, seperti teori determinisme ekonomi yang dikembangkan oleh Friedrich Engels dan Karl Marx. Disamping itu Herbert Spencer juga mengembangkan sistematika penelitian masyarakat dan menyimpulkan bahwa perkembangan masyarakat manusia adalah suatu proses evolusi yang bertingkat tingkat dari bentuk yang rendah ke bentuk yang lebih tinggi, seperti evolusi biologis. Mazhab Frankfurt mengembangkan teori kritik .

2. Objek Kajian Sosiologi sebagai Suatu Ilmu

Ruang lingkup objek yang dipelajari dalam sosiologi cukup luas dan beragam. Banyak aspek yang membedakan kondisi sosial secara umum dalam sebuah masyarakat. Aspek-aspek inilah yang dikaji oleh sosiologi. Klasifikasi aspek-aspek itu mencakup lima bidang utama, yaitu pengkajian populasi, pengkajian tingkah laku sosial, pengkajian institusi sosial, pengkajian pengaruh budaya dan pengkajian perubahan sosial.

    3. Sosiologi Berfungsi Mengkaji Realitas Sosial
    Untuk memahami suatu masyarakat, tidak dapat dilakukan sekaligus secara menyeluruh. Sebab, masyarakat terbentuk oleh berbagai aspek. Aspek-aspek itu merupakan suatu realitas yang menyusun masyarakat. Istilah yang digunakan oleh Emile Durkheim, realitas sosial disebut fakta sosial.
    Secara lebih rinci, Soerjono Soekanto (1982) menyatakan, bahwa masyarakat tersusun oleh tujuh realitas sosial, yaitu sebagai berikut.
    a. Interaksi Sosial
    b. Kebudayaan
    c. Nilai dan Norma
    d. Stratifikasi Sosial
    e. Status dan Peran Sosial
    f. Perubahan Sosial
    4. Hubungan antar realitas sosial
    Enam aspek di atas saling berhubungan, saling memengaruhi, dan saling menentukan. Aspek yang satu berpengaruh terhadap aspek yang lain, dan sebaliknya.
    a. Hubungan antara Nilai Sosial dengan Interaksi Sosial
    b. Hubungan antara Norma Sosial dengan Interaksi Sosial
    c. Hubungan antara Status dan Peranan Sosial dengan Interaksi Sosial
    d. Hubungan antara Kebutuhan Dasar, Norma, dan Istitusi Sosial
    e. Hubungan antara Peran Sosial dengan Kebudayaan
    f. Hubungan antara Kelas Sosial dengan Interaksi Sosial
    5. Fenomena di Masyarakat sebagai Sumber Data Penelitian Sosiologi
    Sosiologi adalah ilmu yang mengkaji realitas sosial. Semua realitas social dapat dipelajari pengaruhnya terhadap fenomena (gejala) sosial yang terjadi di masyarakat. Berbagai gejala sosial yang terjadi antara lain kemiskinan, kenakalan remaja, pengangguran, konflik sosial, gerakan sosial, penyalahgunaan narkotika, integrasi sosial, dan sebagainya, dapat dikaji oleh sosiologi. Untuk memahami itu semua, diperlukan suatu studi sosial.
    Teknik penelitian dalam sosiologi menurut Paul B. Horton:
    1. Studi Cross-sectional dan longitudinal
    2. Eksperimen laboratorium dan eksperimen lapangan
    3. Penelitian pengamatan

    Data sosiologis terdiri atas dua macam, yaitu data kualitatif dan datakuantitatif.
    1. Data Kualitatif
    Data kualitatif dapat diperoleh melalui penelitian-penelitian berikut ini.
    a. Penelitian historis
    b. Penelitian komparati
    c. Studi kasus
    d. Penelitian historis-komparatif
    2. Data Kuantitatif
    Data kuantitatif adalah informasi hasil penelitian yang berupa angka-angka. Gejala-gejala yang diteliti diukur dengan skala, indeks (daftar), tabel atau formulaformula (rumus), dan kemudian diuji dengan rumus-rumus hitung statistik.

    BAB 2

    1. Teori Fungsional – Struktural
    Durkheim mencerminkan dirinya sebagai seorang Organisist (penganut paham organisme), berikut inilah formulasi-formulasinya :
    1. Dia menegaskan bahwa masyarakat haruslah dipandang sebagai suatu kesatuan (entity). Sebagai suatu kesatuan itu, masyarakat bisa dibedakan dengan bagian-bagiannya, namun tidak dapat dipisahkannya. Dengan menganggap msyarakat sebagai suatu “realita suigeneris” (realitas yang tak dapat diragukan eksistensinya), maka Durkheim memberikan proritas analisisnya pada masyarakat secara holistik.
    2. Menegaskan, bahwa bagian-bagian / komponen-komponen dari suatu sistem itu berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan utama dari sistem secara keseluruhan.
    3. Mengandung pengertian bahwa “functional needs” dipergunakan oleh Durkheim dalam terminologi “normal” maupun “pathologis”. Oleh karena itu, kebutuhan-kebutuhan suatu sistem sosial harus terpenuhi agar tidak terjadi keadaan yang abnormal.
    4. Menyebutkan bahwa, dengan memandang sistem sebagai sesuatu yang normal dan patologis seperti yang dimaksud dalam terminologi fungsional, maka pada kadar / taraf tertentu sistem itu akan menunjukkan keadaan equilibrium dan dapat berfungsi secara normal.
    Kelemahan Teori Struktural Fungsional
    Teori Struktural Fungsional mengabaikan kenyataan-kenyataan sebagai berikut:
    1. Setiap struktur sosial, di dalam dirinya sendiri, mengandung konflik-konflik dan kontradiksi-kontradiksi yang bersifat internal yang pada gilirannya justru menjadi sumber terjadinya perubahan-perubahan sosial.
    2. Reaksi dari suatu sistem sosial terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar (extra systemic change) tidak selalu bersifat adjustive.
    3. Suatu sistem sosial di dalam waktu yang panjang dapat juga mengalami konflik-konflik sosial yang bersifat visious-circle.
    4. Perubahan-perubahan sosial tidak selalu terjadi secara graduil melalui penyesuaian-penyesuaian yang lunak, akan tetapi dapat juga terjadi secara revolusioner. (Nasikun, 1984 : 15 – 16)
    Para teoritisi konflik memandang suatu masyarakat sebagai terikat bersama karena kekuatan kelompok atau kelas yang dominan. Nilai-nilai bersama atau konsensus yang oleh para Fungsionalis dianggap sebagai suatu ikatan pemersatu. Sedangkan bagi Teoritisi konflik, konsensus itu merupakan ciptaan dari kelompok atau kelas dominan untuk memaksakan nilai-nilai. (Horton dan Hunt, 1987 : 19 –20).
    Menjadi mudah dimengerti apabila terdapat kalangan yang mengatakan bahwa konflik dan perubahan ditemukan kembali pada permulaan dekade terakhir, yang mendorong beberapa orang menyatakan perspektif konflik sebagai “Sosiologi Baru”.
    2. Teori Konflik.
    Dalam sosiologi, teori konflik berdasar pada asumsi dasar bahwa masyarakat atau organisasi berfungsi sedemikian di mana individu dan kelompoknya berjuang untuk memaksimumkan keuntungan yang diperolehnya; secara tak langsung dan tak mungkin dihindari adalah perubahan sosial yang besar seperti revolusi dan perubahan tatanan politik. Teori konflik ini secara umum berusaha memberikan kritiknya pada fungsionalisme yang meyakini bahwa masyarakat dan organisasi memainkan peran masing-masing sedemikian seperti halnya organ-organ dalam tubuh makhluk hidup.
    Ringkasnya, ada sedikitnya empat hal yang penting dalam memahami teori konfilk sosial, antara lain:
    1. kompetisi (atas kelangkaan sumber daya seperti makanan, kesenangan, partner seksual, dan sebagainya. Yang menjadi dasar interaksi manusia bukanlah konsensus seperi yang ditawarkan fungsionalisme, namun lebih kepada kompetisi.
    2. Ketaksamaan struktural. Ketaksamaan dalam hal kuasa, perolehan yang ada dalam struktur sosial.
    3. Individu dan kelompok yang ingin mendapatkan keuntungan dan berjuang untuk mencapai revolusi.
    4. Perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari konflik antara keinginan (interes) yang saling berkompetisi dan bukan sekadar adaptasi. Perubahan sosial sering terjadi secara cepat dan revolusioner daripada evolusioner.
    Dalam perkembangannya, teori konflik Mills, Dahrendorf, dan Coser berusaha disusun sintesisnya oleh sosiolog Amerika lain, Randall Collins, yang berusaha menunjukkan dinamika konflik interaksional. Menurut Collins, struktur sosial tidak mempunyai eksistensi obyektif yang terpisah dari pola-pola interaksi yang selalu berulang-ulang dalam sistem sosial; struktur sosial memiliki eksistensi subyektif dalam pikiran individu yang menyusun masyarakat.
    3. Teori Intaraksi Simbolik.
    George Herbert Mead menyatakan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan pihak-pihak lain, dengan perantara lambang-lambang tertentu yang dipunyai bersama. Kemudian manusia memberikan arti pada kegiatan-kegiatannya kemudian membentuk prespektif-prespektif tertentu, dengan rumusan, dan berprilaku menurut hal-hal yang diartikan secara sosial.
    Berkaitan dengan pengorganissian data mengenai realitas sosial, sosiologi memiliki beberapa konsep. Pengertian konsep adalah simbol yang digunakan untuk memaknai realitas sosial tertentu misal konsep masyarakat, kebudayaan, nilai, norma,dll. Konsep-konsep tersebut merupakan sarana untuk menjelskan berbagai realitas yang terdapat dalam masyarakat. Penjelasan tentang konsep tersebut terdapat dalam teori yang ada dalam sosiologi.

    BAB 3
    1. Hakikat dan Macam-Macam Nilai Sosial
    Nilai sosial adalah prinsip-prinsip, patokan-patokan, anggapan, maupun keyakinan-keyakinan yang berlaku di suatu masyarakat. Di dalam masyarakat, ada patokan-patokan yang perlu dipatuhi, dianggap baik, benar, dan berharga bagi warga masyarakat. Patokan-patokan itu tidak tertulis, namun hidup dalam alam pikiran setiap warga masyarakat.
    Suatu nilai mengalami proses penerimaan menjadi nilai sosial. Penerimaan ini terjadi dalam tiga tahap, yaitu:
    1. transformasi
    2. diskusi
    3. kritik
    Ciri-ciri nilai social:
    1. Diterapkan melalui proses interaksi antarmanusia yang terjadi secara intensif dan bukan perilaku yang dibawa sejak lahir
    2. Ditransformasikan melalui proses belajar yang meliputi sosialisasi, enkulturisasi, dan difusi.
    3. Berupa ukuran atau peraturan social yang turut memenuhi kebutuhan-kebutuhan social.
    4. Berbeda-beda pada tiap kelompok manusia
    5. Memilik efek yang berbeda-beda terhadap tindakan manusia
    6. Dapat memengaruhi kepribadian individu sebagai anggota masyarakat
    Klasifikasi nilai berdasarkan cirri-cirinya:
    1. Nilai yang terencanakan atau mendarah daging ( Internalized value)
    2. Nilai dominan
    Di dalam masyarakat terdapat bermacam-macam nilai social yaitu, nilai rohani, nilai material, nilai vital, dan nilai perserikatan.
    1. Nilai Rohani
    Menurut Notonagoro, nilai rohani dapat dibedakan menjadi empat yaitu nilai estetika, nilai etika, nilai keilmuan, dan nilai religius.
    2. Nilai Material
    Nilai material berkaitan dengan anggapan masyarakat mengenai materi atau kebendaan dan kekayaan. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda terhadap kekayaan, dan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ada di masyarakat.
    3. Nilai Vital
    Nilai vital berhubungan dengan penghargaan terhadap kesehatan dan kebugaran organ-organ tubuh.
    4. Nilai Perserikatan
    Nilai perserikatan tercermin dalam bentuk kesukaan manusia mendirikan berbagai organisasi atau kelompok.
    Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran nilai karena pengaruh perubahan kebudayaan adalah sebagai berikut:
    a. Penemuan; merupakan terungkapnya manfaat suatu hal yang sebenarnya sudah ada untuk kehidupan manusia. Misalnya, api sudah ada sejak lama, namun baru ditemukan kegunaannya setelah manusia memahami manfaat api.
    b.Invensi; merupakan kombinasi baru atau cara penggunaan baru dari pengetahuan yang sudah ada. Misalnya, pada tahun 1895 George Seldon menciptakan mobil. Padahal mobil merupakan kombinasi berbagai hasil penemuan sebelumnya (kereta, roda, mesin, dan lain-lain).
    c.Difusi; merupakan penyebaran unsur-unsur budaya dari satu kelompok ke kelompok lainnya baik dalam suatu masyarakat maupun antarmasyarakat. Difusi berlangsung secara dua arah, saling memberi dan saling menerima, tetapi pada kenyataannya masyarakat yang terbelakang yang lebih banyak menyerap pengaruh budaya masyarakat maju, sehingga nilai-nilai tradisional mereka berubah karena meniru nilai-nilai masyarakat maju.

    6. Hakikat Norma, Tingkatan, dan Jenis-Jenis Norma dalam Masyarakat
    Apabila nilai-nilai sosial bersifat abstrak, sebaliknya norma-norma social bersifat konkret. Tepatnya, norma merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai sosial.
    Ciri-ciri Norma Sosial
    1. Umumnya tidak tertulis
    2. Hasil kesepakan bersama
    3. Ditaati bersama
    4. Bagi pelanggar diberikan sanksi
    5. Mengalami perubahan
    Klasifikasi Norma social
    a. Berdasarkan tingkatan daya ikat
    1) norma adat istiadat (custom),
    2) kebiasaan atau kelaziman (folkways)
    3) norma kesusilaan atau tatakelakuan (mores)
    4) tatacara (usage),
    b. Berdasarkan aspek-aspeknya
    1) norma agama
    2) norma kesusilaan
    3) norma kesopanan
    4) norma kebiasaan
    5) norma hukum (laws)
    c. Berdasarkan resmi dan tidak resminya
    1) norma tidak resmi
    2) norma resmi

    BAB 4
    1. Hakikat Interaksi Sosial
    Interaksi sosial berasal dari istilah dalam bahasa Inggris social interaction yang brarti saling bertindak. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang inamis, bersifat timbal balik antarindividu, antarkelompok, dan antara individu dngan kelompok. Apabila dua orang bertemu dan terjadi keadaan saling memengaruhi antara mereka, maka telah terjadi interaksi sosial. Keadaan saling mempengaruhi dapat berupa persahabatan, permusuhan, percakapan, isyarat atau bahkan sekadar bau keringat.
    Syarat terjadinya interaksi social :
    a. Kontak Sosial (Social Contact)
    b. Komunikasi
    2. Faktor-Faktor Pendorong Interaksi Sosial
    a. Sugesti
    b. Imitasi
    c. Identifikasi
    d. Simpati
    e. Motivasi
    f. Empati
    3. Bentuk-bentuk interaksi social
    a. interaksi Asosiatif
    Interaksi sosial asosiatif dapat berupa kerja sama, akomodasi, asimilasi, aklturasi, dekulturasi, dominasi, paternalisme, diskriminasi, integrasi, danpluralisme.
    b. Interaksi Disosiatif
    1) Persaingan (Competition)
    2) Kontravensi
    3) Konflik
    4. Status, Peran dan Kelas Sosial
    a. Kedudukan Sosial (Status Sosial)
    Kedudukan social adalah salah satu tempat atau posisi seseorang dalam kelompok social atau masyarakat secara umum sehubungan dengan keberadaan orang lain di sekitarnya. Kedudukan social meliputi lingkungan pergaulan, prestasi, hak, dan kewajiban.
    Dilihat dari proses terjadinya, status seseorang dibedakan menjadi 3, yaitu:
    1) Ascribed status
    2) Achieved status
    3) Assigned Status
    b. Peran (Role) Sosial
    Peran adalah pelaksanaan hak dan kewajiban seseorang sesuai dengan status sosialnya. Dalam masyarakat, terdapat banyak individu dengan peran yang beraneka ragam. Beragamnya peran social tersebut membawa akibat dinamis berupa konflik, ketegangan, kegagalan dan kesenjangan.
    5. Kelas Sosial
    Kelas social merujuk pada pembedaan hierarki/tingkatan antara individu-individu dalam sebuah masyarakat. Pengertiannya dapat berbeda tiap zaman dan masyarakatnya.
    6. Proses Pembentukan Kelompok, Lembaga, dan Organisasi Sosial
    a. Kelompok dan Asosiasi
    Kelompok adalah kumpulan orang yang memiliki keasadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi.
    Menurut Bierstedt, ada empat macam kelompok :
    a. Kelompok statis
    b. Kelompok kemasyarakatan
    c. Kelompok social
    d. Kelompok asosiasi
    b. Lembaga
    Lembaga social memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok manusia.
    Fungsi lembaga social :
    1) Sebagai pedoman anggota masyarakat untuk bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah kemasyarakatan
    2) Menjaga keutuhan masyarakat
    3) Menjaga pegangan untuk mengadakan system pengendalian social
    c. Organisasi Sosial
    Berdasarkan sifat resmi tidaknya, dikenal dua jenis organisasi sebagai berikut :
    1) Organisasi formal
    2) Organisasi informal

    7. Perubahan dan Dinamika Kehidupan Sosial
    Perubahan social adalah apapun yang terjadi (kemunculan, perkembangannya, dan kemunduran) dalam kurun waktu tertentu terhadap peran, lembaga atau tatanan yang meliputi struktur social.
    Teori perubahan Sosial
    a. Teori Evolusi
    b. Teori konflik
    c. Teori Fungsionalis
    d. Teori Siklis

    BAB 5
    1. Pengertian Interaksi Sosial
    Interaksi sosial berasal dari istilah dalam bahasa Inggris social interaction yang brarti saling bertindak. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang inamis, bersifat timbal balik antarindividu, antarkelompok, dan antara individu dngan kelompok.
    Faktor-faktor interaksi sosial(soerjono soekanto)
    a. Imitasi :
    Tindakan sosial meniru sikap,tindakan dll seorang secara berlebihan.
    Contoh:siswa meniru sikap,tindakan dll seorang bintang film terkenal; rambut gondrong ,memakai anting , memakai gelang dan kalung berlebihan.
    b. Sugesti:
    Pemberian pengaruh atau pandangan dari satu pihak kepada pihak lain.
    Contoh: seorang ayah akan lebih baik menganjurkan anak-anaknya yang masih bersekolah untuk rajin belajar agar kelak menjadi orang yang sukses.
    c. Identifikasi:
    Kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain dan proses identifikasi ini berlangsung secara kurang disadari oleh seseorang.

    d. Simpati :
    Proses seseorang merasa tertarik dengan orang lain..agar dapat berlangsung,diperlukan adanya pengertian antara kedua belah pihak.
    Syarat-syarat interaksi social
    a. Kontak . dibedakan menjadi:
    1. Kontak Antarindividu
    2. Kontak antar kelompok
    3. Kontak antara Individu dan suatu kelompok
    Kontak Sosial baik langsung maupun tidak langsung dibedakan menjadi:
    1. Kontak Primer = hubungan timbal balik yang terjadi secara langsung.
    Contohnya:tatap muka dll
    1. Kontak Sekunder = hubungan yang memerlukan pihak ketiga atau lebih untuk melakukan hubungan timbal balik tsb.
    b. Komunikasi.
    Adalah hubungan antara pihak yang satu dengan pihak yang lain yang saling mempengaruhi diantara pihak yang satu dengan yg lain. Dengan komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain dan komunikasi dapat efektif apabila pesan atau pembicaraan yang disampaikan atau diucapkan sama oleh pihak penerima pesan tersebut.
    Komponen-komponen komunikasi:
    1. Pengirim atau komunikator(sender)
    2. Penerima atau komunikan (receiver)
    3. Pesan(Message) : isi yang akan disampaikan
    4. Umpan balik(feedback) : tanggapan dari penerima atas isinya
    2. Bentuk-bentuk interaksi sosial
    a. Proses Assosiatif.
    a) Kerja Sama(cooperation)
    Berusaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
    Bentuk kerja sama:
    1) Kerja sama spontan : kerjasama secara serata-merta
    2) Kerja sama langsung : kerjasama sebagai hasil dari perintah atasan kepada bawahan
    3) Kerja sama kontrak : kerjasama atas dasar syarat yang disepakati bersama
    4) Kerja sama tradisional: kerjasama sebagian atau unsur-unsur tertentu dari sistem social
    b) Akomodasi(Acomodation) :
    Adanya keseimbangan interaksi social dalam kaitannya dengan norma dan nilai yg ada didalam masyarakat.
    Dibedakan menjadi :
    1. Koersi : akomodasi yang terjadi melalui pemaksaan kehendak pihak tertentu terhadap pihak lain yg lebih lemah
    2. Kompromi : masing-masing pihak menurunkan tuntutanya.
    3. Arbitrasi : akomodasi apabila pihak-pihak yang berselisih tidak sanggup mencapai kompromi sendiri.
    4. Mediasi : mempertemukan pihak yang sedang bertikai, akomodasi yang hampir sama dengan arbitrasi.namun, pihak ketiga yang bertindak sebagai penengah atau juru damai tidak mempunyai wewenang memberi keputusan -keputusan penyelesaian antara kedua belah pihak
    5. Konsiliasi: akomodasi untuk mempertemukankeinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya persetujuan bersama.
    6. Toleransi : pihak yang bertikai mengakui eksistensi pihak lain.
    7. Stalemate : akomodasi pada saat kelompok terlibat pertentangan mempunyai kekuatan seimbang.
    8. Ajudikasi : penyelesaian masalah melalui pengadilan atau jalur hukum.
    c) Asimilasi.
    Menyesuaikan diri terhadap perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat.
    Syarat asimilasi:
    1. Terdapat jumlah kelompok yang berbeda kebudayaannya
    2. Terjadi pergaulan antar individu atau kelompok
    3. Kebudayaan masing-masing kelompok saling berubah dan menyesuaikan diri
    d) Akulturasi.
    Proses penerimaan dan pengolahan unsure-unsur kebudayaan asing menjadi bagian kebudayaan suatu kelompok tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaannya asli.
    b. Proses Disosiatif(Opposition Processes)
    dibedakan menjadi:
    1. Persaingan(Competition)
    2. Kontravensi : proses sosial yang ditandai ketidakpastian, keraguan, penolakan, dll
    yang tidak diungkapkan secara terbuka
    3. Pertikaian : pertikaian perselisihan bersifat terbuka karena semakin tajam perbedaan.
    Faktor penyebab Konflik:
    1. Perbedaan individu
    2. Perbedaan latar belakang kebudayaan
    3. Perbedaan kepentingan antara individu dengan kelompok
    4. Perubahan nilai yang cepat atau mendadak
    Menurut Dahrendorf konflik dibedakan menjadi 5 yaitu:
    1. Konflik-konflik antara atau dalam peranan social
    2. Konflik-konflik antara kelompok-kelompok yang terogranisasikan dan yang tidak terorganisasikan
    3. Konflik-konflik antara kelompok-kelompok social
    4. Konflik-konflik antara satuan nasional
    5. Konflik-konflik antara Negara-negara atau antara Negara dengan organisasi internasional.
    Segi positif Konflik:
    1. Dapat memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau belum tuntas
    2. Dapat memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma dan nilai-nilai,serta hubungan sosial dalam kelompok yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan individu atau kelompok
    3. Merupakan jalan mengurangi ketegangan antar individu dan kelompok
    4. Membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru
    5. Dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat

    BAB 6
    1. Hakikat Sosialisasi
    Sosialisasi adalah proses belajar yang kompleks. Dengan sosialisasi, manusia sebagai makhluk biologis menjadi manusia yang berbudaya, yang cakap menjalankan fungsinya dengan tepat sebagai individu dan sebagai anggota kelompok.
    Pembentukan kepribadian manusia melalui proses sosialisasi meliputi:
    a. Internalisasi nilai-nilai, yaitu proses penanaman nilai dan norma sosial ke dalam diri seseorang yang berlangsung sejak lahir hingga meninggal.
    b. Enkulturasi, yaitu proses pengembangan dari nilai-nilai budaya yang sudah tertanam dalam diri seseorang dan diimplementasikan dalam perilaku seharihari.
    c. Pendewasaan diri, yaitu proses berlangsungnya internalisasi dan enkulturisasi secara terus menerus hingga membentuk suatu kepribadian. Apabila kepribadian telah terwujud secara utuh, saat itulah seseorang bisa dikatakan dewasa dan telah siap memegang peran dalam masyarakat sebagai pribadi yang utuh.
    Ada dua macam sosialisasi, yaitu sebagai berikut.
    a. Sosialisasi Primer (Primary Socialization).
    b. Sosialisasi Sekunder (Secondary Socialization)
    2. Fungsi dan Tujuan Sosialisasi
    Secara umum, sosialisasi bertujuan untuk membentuk kepribadian. Kepribadian terbentuk melalui proses mempelajari pola-pola kebudayaan. Kebudayaan yang dipelajari meliputi nilai-nilai, norma-norma, beserta sanksi-sanksi yang akan diterima bila terjadi penyimpangan.Fungsi umum itu dapat dilihat daridua sudut pandang, yaitu sudut pandang individu dan kepentingan masyarakat.
    Apabila fungsi sosialisasi seperti yang dijelaskan di atas berjalan dengan baik, maka diharapkan dapat memenuhi tujuan sosialisasi berikut:
    a. Agar setiap orang dapat hidup dengan baik di tengah-tengah masyarakatnya. Seseorang dapat hidup dengan baik di masyarakat apabila menghayati nilai dan norma dalam kehidupan.
    b. Agar setiap orang dapat menyesuaikan tingkah lakunya dengan harapan masyarakat. Setiap masyarakat memiliki budaya masing-masing. Budaya itu bersifat mengikat para warganya. Oleh karena itu, seorang individu hendaknyadapat menyesuaikan diri dengan budaya itu.
    Agar setiap orang dapat menyadari keberadaannya dalam masyarakat. Warga masyarakat yang menyadari keberadaanya senantiasa mampu berperan aktif dan positif dalam kehidupan sehari-hari. Agar setiap orang mampu menjadi anggota masyarakat yang baik.
    Ciri anggota masyarakat yang baik adalah bahwa dirinya berguna. Berguna bagi dirinya sendiri maupun berguna bagi masyarakat. Dengan demikian, keberadaannya di masyarakat tidak menjadi beban atau pengganggu. Agar masyarakat tetap utuh. Keutuhan masyarakat dapat terjadi bila di antara warganya saling berinteraksi dengan baik. Interaksi itu didasari peran masing-masing tanpa menyimpang dari nilai dan norma umum yang berlaku.
    3. Media Sosialisasi
    a. Keluarga
    b. Teman Sebaya
    c. Sekolah
    d. Lingkungan Kerja
    e. Organisasi
    f. Media Massa
    4. Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian
    a. Pengertian kepribadian
    Manusia adalah makhluk yang unik dalam tingah lakunya. Tidak ada dua orang yang memiliki sifat dan ciri tingkah laku sama, walaupun mereka terlahir kembar sekali pun. Mungkin saja wajah dan ciri fisik lainnya mirip, akan tetapi perilaku setiap individu selalu berbeda. Keunikan ciri perilaku seperti ini dinamakan kepribadian. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda.
    Berikut ini beberapa penjelasan (teori) mengenai terbentuknya kepribadian seseorang.
    1) Cermin Diri
    a) Generalisasi Orang Lain
    b) Konflik Individu dan Masyarakat
    2) Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian
    a) Faktor Prakelahiran (Prenatal)
    b) Faktor Keturunan (Heredity)
    c) Faktor Lingkungan (Environment)
    d) Faktor Kejiwaan
    3) Tahap-tahap Pembentukan Kepribadian
    a) Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
    b) Tahap Meniru (Play Stage)
    c) Tahap Siap Bertindak(Game Stage)
    d) Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Other)

    BAB 7

    1. Pengertian Perilaku Menyimpang
    Dalam masyarakat yang lebih luas, juga terdapat nilai dan norma yang jumlahnya lebih banyak dan beragam. Itu semua diperlukan demi keharmonisan hidup bersama para warga masyarakat. Perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat disebut perilaku menyimpang (nonkonformitas, atau antisosial). Sebaliknya, perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma di dalam masyarakat disebut perilaku tidak menyimpang (konformitas). Dikatakan menyimpang karena ada pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku.
    Relativitas perilaku menyimpang juga dapat terjadi karena situasi dan kondisi. Sesuatu yang dahulu di anggap tidak layak, sekarang dapat dianggap layak. Relativitas nilai sosial dipengaruhi pula oleh tempat atau lingkungan social budaya.
    2. Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang
    Ada empat faktor penyebab perilaku menyimpang, yaitu:
    a. ketidaksempurnaan
    b. sosialisasi
    c. menganut suatu kebudayaan menyimpang,
    d. kesalahan memahami informasi
    e. Ikatan sosial menyimpang.
    3. Berbagai Bentuk Perilaku Menyimpang
    a. Penyalahgunaan NAPZA atau Narkoba
    Penyebab maraknya penyimpangan itu antara lain sebagai berikut.
    1) Ekspresi Keberanian Diri Remaja
    2) Tindakan Protes
    3) Pelarian dari Beban Hidup
    4) Kesetiakawanan
    5) Coba-coba
    b. Perkelahian Antar pelajar
    c. Penyimpangan Perilaku Seksual
    d. Tindakan Kriminal
    Bentuk-bentuk perilaku menyimpang dilihat dari banyaknya orang yang terlibat ialah sebagai berikut.
    a. Penyimpangan individu (individual deviation)
    b. Penyimpangan kelompok (group deviation),
    c. Penyimpangan campuran
    4. Pengertian Pengendalian Sosial
    Pengendalian sosial tidak dapat disamakan dengan pengendalian diri. Pengendalian diri mengarah kepada diri sendiri, sedangkan pengendalian social mengarah kepada pihak lain. Pengendalian sosial dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, baik secara formal maupun nonformal. Ada pengendalian yang terencana, ada pula yang tidak. Mekanisme pengendalian bersifat mengawasi, mengajari, mendidik, membujuk, dan memaksa individu agar menyesuaikan diri dengan nilai dan norma sosial.
    Tujuan utama pengendalian sosial adalah terciptanya ketertiban sosial. Untuk mencapai tujuan itu pengendalian dapat dilakukan secara preventif atau pervasi dan represif atau kompulsif. Secara preventif (pencegahan) bertujuan mencegah terjadinya penyimpangan.
    5. Cara Pengendalian Sosial
    Pengendalian sosial dapat dilaksanakan dengan berbagai cara :
    a. Gosip atau Gunjingan
    b. Teguran
    c. Pemberian Penghargaan dan Hukuman
    d. Pendidikan
    e. Melalui Agama
    6. Lembaga Pengendalian Sosial
    Lembaga yang bertanggung jawab melaksanakan pengendalian sosial :
    a. Polisi
    b. Pengadilan
    c. Lembaga Adat
    d. Tokoh Masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s